KONSUMEN MELAWAN AROGANSI & PREMANISME FINANCE JUAL MOBIL KONSUMEN RINTO BOS BFI MALANG ANCAM BUNUH KONSUMEN
Written by Redaksi
Malang,koranrakyat,com,Peristiwa mencengangkan Masyarakat Malang, aksi premanisme terjadi di BFI Jl. Jagung Suprapto Malang. Rinto Bos BFI ancam bunuh konsumen, dan mengeluarkan kata kata kasar menyampaikan bahwa konsumen dianggap Babi dan sempat ambil batako akan melemparnya, sejumlah karyawan BFI mengetahui akhirnya menghalang halangi aksi rinto yang membabit buta itu. Sedangkan konsumen saat itu sedang meminta penjelasan posisi mobilnya yang telah dirampas sebelumnya di Sidoarjo. Kejadian Senin (25/7) itu membuat masyarakat tercengang, karena terjadi keributan hingga keluar kantor, bahkan HM. Zuhdy Ahmady Lira Malang Raya mengecam adanya aksi bos BFI itu , yang tidak mencerminkan sebagai lembaga Finance sangat disayangkan.
Kejadian berawal salah seorang konsumen menanyakan pada kantor BFI di Jl. Jagung Suprapto Kota Malang, ia meminta penjelasan awalnya ditemui oleh salah seorang karyawan BFI, bahwa ia menyamnpaikan bahwa mobil APV yang pernah dirampas di Sidoarjo sudah Lunas pembayaranya. Adanya, informasi konsumen itu terkejut. Selanjutnya Nurdin salah seorang karyawan BFI lain keluar mengajak bertemu didalam ruangan, namun bukan ada penyelesaian namun malah menyampaikan bahwa mobil sudah di Lelang alias di jual, dan mengatakan tidak tahu harus ditanyakan kemana yang menjual, bahkan Nurdin malah mengajak debat tanpa ada penyelesaian hingga konsumen akan pulang ia tetap nerocos.Akhinya, secara tak disangka Rinto Bos BFI turun dari tangga kantornya berusaha menyerang akan mukul konsumen sambil melontarkan kasar dengan mengatakan konsumen Babi selain itu juga mengancam akan membunuh.
Sejumlah karyawan BFI berusaha menghalang halangi Rinto. Akhinya Rinto mengambil Batako yang akan dilemparkan ke konsumen. Arogansi dari bos BFI Malang akan menyerang dan pukul menjadi tontonan warga sekitar termasuk masyarakat yang melewati Jl. Jagung Suprato Kota Malang.
Secara terpisah HM. Zuhdy yang kerap dipanggil Didik itu mengecam adanya aksi premanisme yang dilakukan oleh Rinto seorang bos lembaga Finance BFI. Kok aneh ya, lembaga Finance seperti itu. Kejadian itu akan membuat takut masyarakat bila lembaga Finance seperti ada perubahan fungsi sebagai lembaga premanisme yang telah menakurt nakuti nasabahnya, sehingga dengan mudah merampas mobil dan memeras nasabah. Mustinya lembaga Finance harus juga memperhatikan hak nasabah, tentunya ada prosedurnya dalam mengambil kendaraan dabn melakukan eksekusi. Apalagi sampai ia menjual mobil nasabah tanpa adanya pemberitahuan.Tentunya pengawas keuangan yang harus terjun terhadap penyimpangan penyimpangan yang dilakukan lembaga Finance sedangkan adanya ancaman serta premanisme dan pemerasan itu merupakan rana pidana tentunya harus segera dilaporkan ke Polisi.Agar tak terulang kejadian serupa.
Sementara Jimmy Hendrik Pengawas Perbankan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta masyarakat yang dirugikan lembaga Finance segera melapor. Tentunya kita akan telusuri segala aspek dalam prakteknya lembaga Industri non Bank itu, kalau menyimpang ketentuan yang ada bisa kami tutup,bahkan tahun ini kita sudah nutup beberapa lembaga keuangan yang tak beres. Termasuk perlu ditelusuri bagaimana seluruh Fidusianya apa sudah benar apa belum dalam melakukan praktek Industri Perbankan. Karena seluruh transaksi harus dilaporkan saat penamdatangan kontrak harus dalam masa 30 hari harus dilaporkan, kalau tidak akan bisa merugikan Negara Karena ada hak Negara non Pajak yang harus diterima.
Secara terpisah Kusworo salah seorang wartawan senior di Jatim ia menyayangkan pola premanisme yang dilakukan Rinto Bos BFi Malang, ini Negara hukum bukan Negara Bar bar semua ada ketentuan dan aturan mainya dalam pratek Industri Perbankan, “ wah kalau caranya begitu masyarakat harus berhati hati, kalau perlu segera lapor polisi bila terjadi premanisme dan pemerasan.Sementara merasa dirinya terancam konsumen akan segera mengadukan kasus ini ke aparat kepolisian.
Diberitakan Sebelumnya ,- Masyarakat resah dengan maraknya aksi peremanisme dan arogansi Lembaga Finace , yang berawal adanya rayuan dari para marketing supaya bisa mengambil kredit di perusahaannya. Tapi, sayangnya sampai diperjalanan konsumen seperti di jebak, dengan melakukan perampasan kendaraanya dan melakukan pemerasan dengan minta imbalam pembayaran yang tak rasional. Sehingga konsumen dibuat tak mampu lagi untuk membayar mobil tersebut.
Seperti yang dialami oleh Dody, kendaraan rekannya yang ia bawah mobil APV dengan warna biru dengan mengambil Leasing di BFI Kota Malang. Ia di hadang sejumlah gerombolan preman diminta mobilnya untuk diminta diserahkan dengan alasan tertentu.Karena merasa ketakutan akhirnya dengan terpaksa dodi harus pulang dengan kendaraan umum. Setelah mobil dikuasai, untuk mengambilnya berbelit belit. Ia diminta untuk menghubungi Rinto yang dikatakan sebagai karyawan BFI, Rinto di telpun tidak diangkat dan saat bisa diangkat bawah ia minta mobil di ambil setelah lebaran. Dengan enaknya mobil konsumen itu dibawah saat lebaran.Karena, dengan libur lebaran cukup panjang dengan enaknya Rinto membawah mobil konsumen tersebut.
Akhirnya setelah lebaran ketika Mobil di minta kembali malah menyampaikan untuk bisa mengambil mobil itu harus bisa membayar uang Rp. 95.829.000 sudah termasuk membayar uang hampir Rp. 17.435 Juta Juta, mobil dibawah malah konsumen diperas oleh karyawan BFI itu . Dengan berbagai alasan supaya mobil tidak bisa diambil lagi. Sebelumnya ketika konsumen mencoba konsultasi pada BFI ditemui Nurdin tidak ada jalan keluar , malah ia memaki maki dengan mengatakan berbagai hal yang sangat menyakitkan konsumen, Saat Rinto dikonfirmasi kembali, bahwa ia tetap tidak akan memberikan pada konsumen kendati uang keterlambatan di bayar. Adanya kejadian itu rencana konsumen akan mengadu ke LSM Lembaga Perlindungan Konsumen serta penegak hukum serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar kejadian perampasan dan pemerasan terhadap Konsumen tidak terulang kembali. Sementara Rinto ketika dikonfirmasi soal keputusan yang dibuat itu dianggap sudah menjadi keputusan Managemen BFI Sementara Regional manager Jatim Bali Kadek Tirtayasa hingga kini belum berhasil dihubungi HPnya mati(tim)