Selamat Datang Di Koranrakyat.com infokan berbagai kasus atau keluhan yang berkaitan dengan layanan publik melalui email ke This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. tertarik jadi wartawan dan iklan kirim lamaran ke email cv anda ke email This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Headline News

Situasi Pilpres Serentak Cukup Kondusif
Last Updated on Apr 21 2019

Situasi Pilpres Serentak Cukup Kondusif

  JAKARTA,KORANRAKYAT.COM- Pelaksanaan Pemilihan umum Presiden, Pemilihan Legislatif, Pemilihan DPD dan DPRD yang berlangsung dari pagi diseluruh indonesia berlngsung secara umum  kondusif, namum ada beberapa daerah sempat menghadapi kendala menyangkut  penundaan Pemilu di Papua dan Kabupaten...
Menjaga Pemungutan Suara 9 Anggota Polisi Tewas
Last Updated on Apr 21 2019

Menjaga Pemungutan Suara 9 Anggota Polisi Tewas

    JAKARTA,KORANRAKYAT.COM- Sebanyak 9 anggota Polri tewas  saat melaksanakan tugas menjaga keamanan pemungutan suara Pemilu 2019.Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo  ditemui di Mabes Polri, Jalan Tronojoyo No. 3, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Jumat...
Bareskrim Polri Ungkap 4 Jaringan Perdagangan Orang
Last Updated on Apr 14 2019

Bareskrim Polri Ungkap 4 Jaringan Perdagangan Orang

      JAKARTA,KORANRAKYAT.COM- Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri mengungkap 4 jaringan besar dalam kasus Tindak Pidana Perdagangan orang di  Maroko, Suriah, Turki dan di Arab Saudi. Para sidikat jaringan mampu meraup uang Rp 600 Juta hingga 1,5 Miliar berhasil menjual pekerja...
Rugi Rp, 2,5 Milyar Indomaret Di Bobol Karyawannya
Last Updated on Apr 14 2019

Rugi Rp, 2,5 Milyar Indomaret Di Bobol Karyawannya

  JAKARTA,KORANRAKYAT.COM- Aksi kejahatan legal akses atau legal hacking  yang merusak  server terjadi, kali ini di  PT Indomaret yang dilakukan oleh 4 orang yaitu  EG, IT, LW dan BP. Dimana  mantan karyawan  EG dan ITE dengan modus operandi untuk membeli voucer game online UNIPIN dan...
Tiba di Riyadh, Presiden Jokowi Akan Bertemu Raja Salman dan Pangeran Muhammad bin Salman
Last Updated on Apr 14 2019

Tiba di Riyadh, Presiden Jokowi Akan Bertemu Raja Salman dan Pangeran Muhammad bin Salman

Riyadh ( KORANRAKYAT.COM) Tiba di Riyadh, Presiden Jokowi  akan Bertemu Raja Salman dan Pangeran Muhammad bin Salman Cuaca cerah menyambut kedatangan Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi pada Minggu 14 April 2019 pukul...

World Today

  •  
    Tiba di Riyadh, Presiden Jokowi Akan Bertemu

    Riyadh ( KORANRAKYAT.COM) Tiba di Riyadh, Presiden Jokowi  akan Bertemu Raja Salman dan Pangeran

     



JAKARTA(KORANRAKYAT.COM) Presiden Joko Widodo kembali menghidupkan bulan Ramadan dengan bersilaturahmi.

Sore ini, Rabu, 14 Juni 2017, giliran para jurnalis yang bertugas di lingkungan Istana Kepresidenan, yang

mendapatkan kesempatan untuk bersilaturahmi sekaligus berbuka puasa bersama Kepala Negara.

Sambil menunggu waktu berbuka puasa, Presiden bersama-sama para jurnalis mendengarkan tausiah Ramadan yang

disampaikan oleh Trainer Pemahaman Alquran dan Hadist Adipura dan dilanjutkan salat Magrib berjamaah di

Istana Negara Jakarta.

     Usai santap malam, Presiden Joko Widodo juga memberikan kuis yang berhadiah sepeda kepada para

jurnalis yang hadir. Beragam pertanyaan mulai dari Pancasila, nama ikan, nama provinsi dan ibukota, hingga

peragaan pencak silat pun diajukan Presiden.Namun, kali ini Presiden juga memberikan hadiah sepeda kepada

jurnalis yang mengenakan kaos kaki bolong. Sontak saja kejadian tersebut mengundang gelak tawa para

jurnalis dan menjadikan acara tersebut lebih bersahabat.

 

Peran Media Bangun Produktivitas Bangsa

Di akhir acara, Presiden Joko Widodo kemudian menyampaikan sambutan tentang pentingnya peran media dalam

membangun sebuah negara, utamanya dalam menumbuhkan sikap optimisme pada masyarakat.

"Saya titip bahwa media ini sangat penting, pers ini sangat penting, terutama bagaimana menumbuhkan sebuah

optimisme bagi bangsa ini," ujar Presiden.

Lebih lanjut Kepala Negara juga mengingatkan peran media dalam membangun etos kerja dan produktivitas guna

berkompetisi dengan negara lain.

     "Karena _problem_ besar negara kita adalah justru di situ, etos kerja, membangun etos kerja dan membangun

produktivitas," ungkapnya.Menurutnya, dua hal tersebut dapat menjadikan masyarakat Indonesia memiliki

pemikiran positif dalam mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yang makmur dan sejahtera.

"Kita harapkan _output_ produk-produk yang keluar dari etos kerja yang tinggi dengan produktifitas yang

tinggi betul-betul menjadikan negara ini sebuah negara besar, makmur, dan sejahtera," ucap Presiden.

Harapan tersebut diyakini Presiden melihat banyaknya sumber daya berkualitas yang ada di Tanah Air.

"Saya meyakini itu karena potensi yang ada, ini ada. Kekuatan yang ada, ada. SDM yang ada, ada," kata

Presiden.Turut mendampingi Presiden, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Staf Khusus Presiden Ari Dwipayana

dan Johan Budi.(eas)

 

 

 

JAKARTA(KORANRAKYAT.COM) Presiden Joko Widodo secara pribadi memandang bahwa Indonesia masih membutuhkan upaya yang luar biasa terhadap pemberantasan korupsi. Maka itu, ia berharap agar semangat pemberantasan korupsi di Tanah Air untuk terus dijaga dan tidak mengendur begitu saja. Pandangan itu ia sampaikan saat mengunjungi ruang yang diperuntukkan bagi para jurnalis bertugas di lingkungan Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa, 13 Juni 2017.

                Untuk diketahui, Presiden Joko Widodo menyempatkan diri untuk mengunjungi para jurnalis di ruang kerja mereka yang baru digunakan kembali pada Mei 2017 setelah dilakukan renovasi. Kunjungan mendadak itu dilakukan tak lama setelah Presiden dan rombongan baru saja kembali dari kegiatannya membagikan paket bantuan bahan pokok di Masjid Mubarok, Penjaringan, Jakarta Utara. Sekitar dua puluhan jurnalis tampak berada dalam ruangan saat Presiden melihat-lihat kondisi ruang kerja mereka.

             Dalam kesempatan itu, Presiden yang didampingi Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung, juga berdiskusi sejenak dengan para jurnalis. Pada momen inilah mantan Gubernur DKI Jakarta ini ditanyakan pendapatnya soal pemberantasan korupsi di Tanah Air."Kalau saya tidak ingin KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) lemah. KPK harus kuat dan upaya pemberantasan korupsi juga tidak boleh mengendur karena negara kita masih memerlukan upaya yang luar biasa dalam pemberantasan korupsi," jawabnya.

Untuk itu, dirinya menegaskan bahwa tidak boleh sekali pun terlintas dalam benak kita mengenai pemikiran-pemikiran untuk melemahkan upaya dari lembaga antirasuah itu. Inilah semangat dan landasan pemikiran yang menurutnya harus terus dijaga oleh bangsa Indonesia.

             "Kita perlu KPK yang kuat, KPK yang independen. Pemikiran ini harus menjadi landasan kita bersama dalam semua langkah dan pembuatan keputusan. Jadi jangan ada pikiran-pikiran melemahkan KPK, tidak boleh!" Presiden menegaskan. Meski demikian, ia tidak memungkiri bila dalam realitasnya di lapangan terdapat pandangan mengenai perbaikan yang harus dilakukan oleh KPK. Namun, perbaikan tersebut hendaknya dilandaskan pada semangat untuk terus menjadikan KPK lebih profesional dan menjadi semakin kuat.

             "Kalau memang harus ada yang diperbaiki, ya diperbaiki. Kalau memang harus ada yang dibenahi, ya dibenahi. Tapi kita memerlukan KPK yang kuat, memerlukan upaya pemberantasan korupsi yang tidak mengendur. Sekali lagi, negara kita masih memerlukan upaya luar biasa dalam mengatasi korupsi," tuturnya. Presiden sendiri tidak ingin berkomentar mengenai polemik hak angket terhadap KPK yang saat ini tengah digulirkan di DPR. Secara tegas, ia menyatakan bahwa persoalan hak angket merupakan kewenangan di DPR yang tidak bisa diintervensi pemerintah. "Itu wilayahnya DPR," ujarnya singkat.(eas)

 

 

 
 
Bulan Ramadan adalah bulan di mana Allah SWT menurunkan Al- Quran kepada Rasulullah SAW sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Hal tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo saat memberikan sambutan dalam acara puncak Peringatan Nuzulul Quran 1438 H Tingkat Nasional di Istana Negara, pada Senin, 12 Juni 2017.
 
"Al-Quran menjadi rahmat bukan saja untuk bangsa Arab tetapi untuk seluruh umat manusia," ujar Presiden Joko Widodo.
 
Oleh sebab itu, peringatan Nuzulul Quran menjadi pengingat bagi pemerintah untuk menjadikan Al-Quran sebagai pedoman dalam menjalankan tugas negara. Mengingat di dalam Al-Quran terkandung nilai universalitas yang digunakan Rasulullah untuk mentransformasikan bangsa Arab menjadi bangsa yang beradab dan maju.
 
“Dengan meneladani Rasulullah dalam membangun bangsa dan negara Indonesia, dalam mengejar kemajuan dan kesejahteraan rakyat, kita harus bersandar pada tuntutan universalitas Al-Quran,” ucap Presiden.
 
Presiden juga mengingatkan bahwa kita akan termasuk golongan pendusta agama apabila membentak anak yatim, tidak peduli dengan orang miskin dan berbuat kerusakan di muka bumi. 
 
“Karena itu, pemerintah terus fokus untuk meningkatkan ekonomi yang berkeadilan bagi seluruh masyarakat, memberantas radikalisme, terorisme, dan menggebuk komunisme,” ungkapnya.
 
Al-Quran juga mengajarkan kita untuk bersikap ta’awun, saling bekerja sama dan tolong-menolong dalam semua aspek kehidupan kita sehari-hari.
 
“Al-Quran juga mengajarkan kita untuk bekerja keras, mengubah nasib kita, nasib bangsa Indonesia,” kata Presiden.
 
Lebih lanjut, Presiden menyatakan bahwa saat ini pemerintah telah mengeluarkan sejumlah kebijakan yang memudahkan masyarakat. Di antaranya Kebijakan Pemerataan Ekonomi melalui pembagian aset bagi umat untuk memiliki lahan, mendapatkan kemudahan akses permodalan, dan membangun pendidikan vokasi yang masif.
 
"Pemerintah terus bekerja keras membangun infrastruktur, konektivitas di seluruh Tanah Air agar biaya logistik bisa turun, biaya transportasi bisa turun, perbedaan harga antar wilayah tidak terlalu jauh, artinya merata,” ujar Presiden.
 
Selain itu, pemerintah juga sedang menyusun rencana untuk memperkuat pengembangan ekonomi umat melalui pengembangan Lembaga Keuangan Syariah yang dikelola berdasarkan sistem wakaf.
 
“Tapi ini masih dalam proses untuk kita selesaikan,” tutur Presiden.
 
Melalui panduan Al-Quran pula rakyat Indonesia perlu memahami kodrat bangsa Indonesia untuk hidup dalam kebinekaan. Sebab, keberagaman suku, agama, ras, dan golongan yang ada di Indonesia merupakan anugerah Allah SWT.
 
“Dan kita wajib merawat apa yang sudah menjadi anugerah Allah SWT, kita wajib merawat Bhinneka Tunggal Ika,” ujar Presiden.
 
Senada dengan hal tersebut, Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin turut mengajak masyarakat Indonesia untuk meneladani sifat Rasulullah sebagai penebar rahmat. Hal ini sesuai dengan ajaran agama Islam yang rahmatan lil alamin.
 
"Ini esensi Islam, Rasulullah hadir di muka bumi ini agar rahmat bisa hadir di tengah-tengah kita semua. Dan kita dituntut untuk melakukan semaksimal mungkin," ujar Lukman.
 
Sebelum menghadiri Peringatan Nuzulul Quran 1438 H Tingkat Nasional, Presiden Joko Widodo melaksanakan buka puasa bersama dengan ratusan anak yatim, tokoh ulama, serta qori dan qoriah tingkat nasional dan internasional di Istana Negara. Selepas salat Magrib dan santap malam, Presiden bersama qori dan qoriah tingkat internasional dan nasional, anak yatim, difabel, perwakilan pondok pesantren, serta pengurus masjid berjalan kaki menuju Masjid Baiturrahim.
 
Saat berjalan kaki, di sisi kiri dan kanan Presiden serta rombongan dinyalakan puluhan obor yang semakin menyemarakkan suasana. Setibanya di masjid, Presiden kemudian melaksanakan ibadah salat Isya dan Tarawih berjemaah. (eas)

 

 
 
TASIKMALAYA(KORANRAKYAT.COM) Presiden Joko Widodo meminta seluruh aparat Pemerintahan meninggalkan pola-pola lama dalam menyelesaikan permasalahan bangsa. Selama ini,
 
banyak persoalan yang bisa diselesaikan
 
dengan cepat namun tidak cepat-cepat diselesaikan. "Menunggu perintah Presiden. Apakah harus seperti itu? Kan tidak," ucap Presiden Joko Widodo di Pangkalan TNI AU Wiriadinata Kota
 
Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu 10 Juni 2017. Presiden berada di pangkalan TNI AU tersebut untuk menyaksikan penandatanganan kesepakatan antara TNI Angkatan Udara, Kementerian
 
Perhubungan dan Pemerintah Kota Tasikmalaya tentang Optimalisasi Pangkalan TNI AU Wiriadinata sebagai Bandar Udara.
 
Penandatangan itu adalah hasil langkah cepat Presiden setelah mendengarkan keluhan Wali Kota Tasikmalaya Budi Budiman yang sudah 12 tahun meminta agar Lanud Wiriadinata  juga dapat
 
dimanfaatkan sebagai bandara umum atau komersial. "Itu belum juga terlaksana," ucap Presiden menirukan keluhan Wali Kota Tasikmalaya.
 
Presiden lantas meminta waktu dua minggu untuk menyelesaikan masalah ini. "Saya tidak mau bulan, saya minta minggu, dua minggu. Dan ternyata dua hari sudah selesai," ungkapnya.
 
Presiden merasa optimis bandara ini akan mendorong pertumbuhan   ekonomi dan bisnis di Tasikmalaya dan sekitarnya. Presiden yakin dalam waktu enam bulan mendatang bandara Wiriadinata
 
akan ramai. 
 
Agar bandara ini semakin maksimal mendorong ekonomi Tasikmalaya dan sekitarnya, Presiden memerintahkan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi untuk memperpanjang  landasan. Kepala
 
Negara menyatakan akan meninjau secara langsung landasan itu pada akhir  2017. “Sekarang _runway_-nya kan 1.200 meter. Perpanjang tahun ini menjadi 1.600 meter,” ucap Presiden. 
 
Bukan kali ini saja Presiden mendorong percepatan pengembangan bandara. Pengalaman serupa pernah terjadi di bandara Silangit, Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara beberapa tahun lalu.
 
Bandara yang sudah ada tidak terpakai. Setelah Presiden memerintahkan maskapai Garuda membuat jadwal penerbangan reguler ke sana, "Sekarang jadi rebutan, semua maskapai jadi terbang ke
 
sana," kata Presiden.
 
Namun Presiden juga mengingatkan agar semua persyaratan tata kelola dan prosedur harus diikuti. Demikian juga halnya dengan mekanisme pemindahan aset, harus berjalan sesuai aturan
 
perundang-undangan yang ada. Masalah ini harus dipecahkan bersama-sama oleh seluruh kementerian dan lembaga yang berkompeten menangani aset negara, misalnya Kementerian Keuangan.
 
"Jangan melupakan hal-hal yang berkaitan dengan prosedur," kata Presiden.
 
Tak hanya udara, transportasi darat juga menjadi perhatian Presiden. Salah satunya jalur kereta api. Pemerintah akan mengkaji lebih rinci berbagai kemungkinan pengembangan sarana tranportasi
 
kereta api.
 
“Saya kira kalau kita bekerja secara maraton seperti ini, paralel yang udara, yang darat semuanya dikerjakan, insya Allah ekonomi kita akan menjadi lebih baik, terutama ekonomi di daerah, di sini,”
 
ujarnya.
 
Penandatanganan MoU antara TNI Angkatan Udara, Kementerian Perhubungan dan Pemerintah Kota Tasikmalaya tentang Optimalisasi Pangkalan TNI AU Wiriadinata sebagai Bandar Udara
 
dilakukan oleh Panglima Komando Operasi Angkatan Udara I Marsekal Muda TNI Imam Baidirus, Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agus Santoso dan Walikota Tasikmalaya
 
Budi Budiman. 
 
Turut hadir pada acara tersebut, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki dan Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar.(eas/im)
Presiden Salat Tarawih Bersama Santri Pondok Pesantren Cipasung*
 
Presiden Joko Widodo pada hari ke-14 Ramadan 1438 H yang bertepatan dengan Jumat, 9 Juni 2017 melaksanakan salat Tarawih di Pondok Pesantren Cipasung, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya.Sebelum melaksanakan salat Tarawih, Presiden terlebih dahulu salat Isya berjamaah bersama para santri Pondok Pesantren Cipasung.
 
Selepas salat Tarawih, Presiden mengingatkan para jamaah yang hadir bahwa Indonesia adalah negara besar yang memiliki 17 ribu pulau, 516 kota/kabupaten, 714 suku, 1100 lebih bahasa lokal. 
"Betapa anugerah Allah yang diberikan kepada kita sangat besar, sangat beragam. Indonesia ini sangat beragam Bayangkan negara yg lain paling hanya memiliki 1-5 suku, tapi kita meimiliki 714 suku," ucap Presiden. Keberagaman itu, lanjut Presiden, merupakan takdir yang diberikan Allah kepada Indonesia. "Inilah hukum Allah yang diberikan kepada kita yang sangat beragam, berbeda suku, agama, dan ras dan tersebar di 17 ribu pulau," tuturnya. Oleh karenanya, Presiden mengajak untuk bersama-sama menjaga persatuan kita, ukhuwah Islamiyah kita diantara umat muslim. 
"Jangan sampai di antara kita sendiri saling menjelekkan,mencemooh, menyalahkan, saling memfitnah, padahal kita ini adalah saudara," kata Presiden.
 
Oleh sebab itu ukhuwah Islamiyah harus betul-betul dipahami dan diyakini bahwa kita memang berada di sebuah negara besar. Dan ukwhuwah Wathoniyah mengingatkan kita bahwa Indonesia ini terdiri dari beragam agama, yakni Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu dan Konghucu. "Oleh sebab itu ukhuwah Wathoniyah kita sebagai saudara sebangsa dan setanah air harus kita jaga. Dan saya sangat mengapresiasi sekali apa yang telah dilakukan oleh para ulama sepuh para ulama dari Pondok Pesantren Cipasung untuk mempererat saudara kita dalam bingkai  NKRI," kata Presiden.
Oleh karenanya Presiden mengingatkan untuk menjaga Ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah Wathoniyah kita. "Menjaga persaudaraan dan persatuan kita sehingga betul-betul kita menjadi negara yang besar, siap berkompetisi dengan negara lain," ucap Presiden.Saat tiba di pondok pesantren, Presiden disambut Pimpinan Pondok Pesantren CIpasung KH Abun Bunyamin Ruhiat. Turut hadir mendampingi Presiden diantaranya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki dan Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar.
Reformasi Agraria Dimulai, Presiden Jokowi: Juli akan Kelihatan Hasilnya*
 
TASIK MALAYA (KORANRAKYAT.COM) Presiden Jokowi mengaku bahwa program Reformasi Agraria melalui redistribusi lahan telah dimulai. Hal tersebut disampaikan Presiden setelah menghadiri acara Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan Program Keluarga Harapan (PKH) di Lapangan Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, Jumat, 9 Juni 2017.
 
"Sebetulnya pelaksanaan sudah. Hanya memang yang kecil-kecil, belum. Nanti mungkin sebelum Agustus, sudah. Juli akan kelihatan, akan banyak nanti," kata Presiden kepada wartawan.Menurut Presiden, pemerintah masih terus mengupayakan program ini berjalan sesuai skema yang telah ditetapkan pemerintah. Melalui redistribusi lahan, pemerintah berharap masyarakat dapat menggunakan lahan secara produktif sehingga bermanfaat bagi meningkatnya ekonomi masyarakat.
 
"Jangan sampai ini hanya kaya bagi-bagi lahan. _Enggak_, bukan itu. Kita akan membangun produktivitas. Artinya, lahan yang kita berikan harus produktif. Tidak ditelantarkan apalagi dijual," ujarnya lebih lanjut.Ia juga mengatakan, saat ini pemerintah masih mengevaluasi target sasaran dari kelompok-kelompok masyarakat yang akan mendapatkan lahan pemerintah itu. 
 
"Kita akan mencari kelompok masyarakat, mencari koperasi, mencari pondok pesantren yang memiliki visi-visi seperti ini kan juga tidak gampang. Karena memang ada kriteria-kriteria yang sudah disusun," ucap Presiden. Saat ditanya wartawan mengenai target dari program ini, Presiden pun berjanji akan mengajak wartawan untuk melihat realisasinya pada bulan Juli nanti.
"Kan baru mulai. Nanti lah Juli akan mulai kelihatan, akan saya ajak nanti," pungkas Presiden.Program Reformasi Agraria adalah proses alokasi dan konsolidasi kepemilikan, penguasaan, dan penggunaan lahan oleh masyarakat. Melalui program ini, diharapkan produktivitas masyarakat akan meningkat dan berdampak pada pemerataan dan peningkatan ekonomi nasional.(eas/im)

 

MALANG(KORANRAKYAT.COM) Presiden Joko Widodo mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bersama merenungi dan kembali kepada jati diri bangsa Indonesia. Sebagai bagian dari sebuah bangsa yang besar, masyarakat juga harus menyadari bahwa Indonesia terdiri atas berbagai budaya dan kepercayaan dalam balutan persaudaraan.

 Hal itu kembali disampaikan oleh Presiden saat memberikan sambutannya pada acara Kajian Ramadan 1438 H Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, pada Sabtu, 3 Juni 2017, di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dome.

 "Kita kembali pada etos kerja yang tinggi. Kembali kepada kedisiplinan kita yang tinggi. Kembali kepada etika bermasyarakat yang tinggi. Kembali kepada budi pekerti, kesantunan, dan kesopanan kita yang baik," ajak Presiden.

 Maka itu, dalam kesempatan tersebut, setidaknya terdapat tiga hal penting yang dipaparkan Presiden untuk menyikapi kondisi bangsa saat ini dan kembali pada jati diri bangsa Indonesia. 

 "Pertama, semangat keagamaan kita telah diberi ruang oleh negara. Oleh sebab itu, gunakan ruang yang besar untuk kembalikan semangat ukhuwah kita," Presiden mengawali pemaparannya.

 Semangat inilah yang disebut Presiden harus diajarkan dan disebarkan oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Termasuk dalam semangat tersebut ialah nilai-nilai budi pekerti, etika, kesantunan, dan kesopanan.

 "Karena dari situ kita bisa mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain. Semangat keagamaan ini harus kita pakai untuk ke arah sana," ia menambahkan.

 Kemudian yang kedua, dalam hal pendidikan, Presiden berulang kali menyatakan komitmennya untuk berupaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Tentunya dengan didasari pada nilai-nilai agama, moralitas, integritas, dan mentalitas yang baik.

 "Percuma anak-anak kita pandai tapi ini (nilai-nilai dasar) tidak ada. Tidak ada artinya!" Presiden menegaskan.Sebagai hal ketiga dari pemaparannya itu, Presiden Joko Widodo juga berpesan kepada seluruh pihak untuk tidak melupakan ukhuwah Islamiah yang sesungguhnya menjadi ciri khas kita, negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam dan berasal dari bermacam suku bangsa.

 "Kita lupa bahwa kita ini saudara. Beragam, bermacam-macam, agama, suku, dan ras. Kita lupa ukhuwah Islamiah kita. Sedangkan penduduk kita 85 persen Muslim. Sehingga kembali lagi kita kehabisan energi untuk hal-hal yang tidak perlu," ujarnya.

 Turut hadir mendampingi Presiden dalam acara ini, di antaranya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dan Tokoh Muhammadiyah Abdul Malik Fadjar.(fd/eas)

 

 

Thursday, 01 June 2017 11:09

Presiden Ajak Semua Elemen Bangsa Menjaga Pancasila

Written by

 

JAKARTA(KORANRAKYAT.COM),- Presiden Joko Widodo mengajak seluruh elemen bangsa Indonesia untuk bersama-sama menjaga Pancasila. Demikian ditegaskan Presiden saat menjadi inspektur upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila yang digelar di halaman Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Kamis, 1 Juni 2017.

 "Saya mengajak peran aktif para ulama,para ustad, para pendeta, para pastur, para biksu, para pedanda, para pendidik, para budayawan dan pelaku seni, para pelaku media dan jajaran pemerintahan, TNI dan Polri, serta seluruh komponen masyarakat untuk bersama-sama menjaga Pancasila.," ujar Presiden dalam sambutannya.

 Untuk diketahui, upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila ini merupakan yang pertama kali dilakukan. Hal itu dapat terwujud setelah Presiden Joko Widodo mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila. Melalui Keppres tersebut, setiap tanggal 1 Juni, pemerintah bersama dengan masyarakat akan memperingati hari lahir Pancasila di mana upacara peringatan tersebut dilaksanakan secara nasional di masing-masing daerah. 

 Tampak hadir mendampingi Presiden, Wakil Presiden Jusuf Kalla, para pimpinan lembaga tinggi negara dan para menteri anggota Kabinet Kerja. Wakil Presiden ke-6 Try Sutrisno, Wakil Presiden ke-11 Boediono, dan keluarga dari para pejuang perumus Pancasila juga turut hadir. 

 Dalam sambutannya itu, Presiden mengingatkan bahwa Indonesia dipersatukan melalui Pancasila yang tidak lain merupakan perwujudan jiwa besar dari para _founding fathers_, ulama, tokoh agama dan juga pejuang kemerdekaan dari seluruh pelosok nusantara. Melalui Pancasila itu pula, bangsa Indonesia menjunjung tinggi keberagaman yang sesungguhnya merupakan kekuatan bangsa.

 "Takdir Tuhan untuk kita adalah keberagaman. Dari Sabang sampai Merauke adalah keberagaman. Dari Miangas sampai Rote adalah keberagaman. Berbagai etnis, berbagai bahasa lokal, berbagai adat istiadat, berbagai agama, kepercayaan serta golongan bersatu padu membentuk Indonesia. Itulah Bhinneka Tunggal Ika kita, Indonesia,” ia menegaskan.

 

*Komitmen Memperkuat Pancasila*

 Dewasa ini, perlu diakui bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara kita sedang mengalami tantangan. Sejumlah pandangan dan tindakan yang mengancam kebinekaan dan keikaan kita mulai bermunculan. “Ada sikap tidak toleran yang mengusung ideologi lain selain Pancasila. Dan semua itu diperparah oleh penyalahgunaan media sosial, oleh berita bohong, oleh ujaran kebencian yang tidak sesuai dengan budaya bangsa kita," kata Presiden.

 Oleh karena itu, ia meminta agar bangsa Indonesia belajar dari pengalaman bangsa lain yang dihantui oleh radikalisme, konflik sosial, terorisme, dan juga perang saudara. Pancasila dan UUD 1945 yang saat ini dimiliki Indonesia disebut Presiden sesungguhnya dapat menghindarkan bangsa dari hal-hal yang tak diinginkan itu.

 "Dengan Pancasila, Indonesia adalah rujukan masyarakat internasional untuk membangun kehidupan yang damai, yang adil, yang makmur di tengah kemajemukan dunia," tuturnya.

 Dalam kesempatan itu, Kepala Negara mengajak peran aktif para tokoh lintas agama, tokoh masyarakat, pendidik, pelaku seni dan budaya, pelaku media, jajaran birokrasi, TNI dan Polri, serta seluruh komponen masyarakat untuk bersama-sama menjaga Pancasila. 

 Pemerintah sendiri memiliki komitmen yang kuat untuk menjaga Pancasila dan kebinekaan bangsa. Melalui Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2017, dibentuklah Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila. Lembaga baru ini nantinya akan ditugaskan untuk memperkuat pengalaman Pancasila dalam kehidupan sehari-hari yang terintegrasi dengan program pembangunan.

 "Pemahaman dan pengamalan pancasila harus terus ditingkatkan. ceramah keagamaan dan materi pendidikan,fokus pemberitaan dan perdebatan di media sosial harus menjadi bagian dari pendalaman dan pengamalan pancasila," Presiden menjelaskan.

 Mengakhiri sambutannya itu, Presiden turut meminta kewaspadaan seluruh elemen bangsa terhadap segala bentuk pemahaman dan gerakan yang tidak sejalan dengan Pancasila. “Pemerintah pasti bertindak tegas terhadap organisasi dan gerakan yang anti pancasila, yang anti Undang-Undang Dasar 1945, yang anti NKRI dan yang anti Bhinneka Tunggal Ika,” ucap Presiden.

 Pemerintah juga akan bertindak tegas terhadap paham dan gerakan komunisme yang secara jelas dilarang di Indonesia.

 "Selamat Hari Lahir Pancasila. Kita Indonesia, Kita Pancasila. Semua Anda Indonesia, semua Anda Pancasila. Saya Indonesia, saya Pancasila," ujarnya di penghujung sambutan.

 Setelah mengikuti upacara, Presiden bersama Wapres meninjau pameran foto ”Sejarah Lahirnya Pancasila” di Foyer Gedung Pancasila dan juga berfoto bersama di Ruang Pancasila.(eas)

 

 

Monday, 29 May 2017 14:51

K.H. Ma'ruf Amin Memberi Tausiah Di Istana Bogor

Written by

 

 

JAKARTA(KORANRAKYAT.COM)Setelah mengikuti Sidang Kabinet Paripurna, Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama para Menteri Kabinet Kerja mendengarkan tausiah yang disampaikan K.H. Ma'ruf Amin menjelang azan Magrib di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat.

Sore itu, Senin, 29 Mei 2017, yang bertepatan dengan 3 Ramadan 1438 H, Presiden bersama Wakil Presiden menggelar acara buka puasa bersama dengan para menteri. Tampak pula para pejabat setingkat menteri yang hadir dalam acara tersebut.

 

Dalam tausiahnya, K.H. Ma'ruf Amin menyampaikan pesan tentang cara 'Membangun Hubungan Baik dengan Allah dan Sesama Manusia'.Setelah azan berkumandang, Presiden, Wakil Presiden, beserta para menteri menikmati aneka hidangan takjil berupa kurma, es kelapa muda, risoles dan kolak.

 

Tak berapa lama, Presiden bersama Wakil Presiden dan para menteri menunaikan ibadah salat Magrib yang dipimpin oleh K.H. Ma'ruf Amin sebagai imam.Selepas salat Magrib, Presiden, Wakil Presiden, dan para menteri bersama-sama menikmati jamuan santap malam di sayap kanan Gedung Induk Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat. Santap malam yang dihidangksn antara lain, nasi goreng, sate ayam, sate kambing, baso dan tekwan.(eas)

 

SOLO (KORANRAKYAT.COM) Pawai Obor jelang Ramadhan di kampung Melayu diwarnai dengan insiden pengeboman. Bom Panci meletus di dua lokasi, puluhan korban berjatuhan termasuk anggota Polisi.

 Sementara Presiden Joko Widodo mengutuk keras dan menyampaikan rasa duka yang mendalam kepada para korban serangan bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta Timur, yang terjadi pada Rabu malam tadi, 24 Mei 2017. Peristiwa tersebut menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka.

 "Saya menyampaikan rasa duka yang mendalam kepada para korban dan keluarganya, baik yang masih di rumah sakit maupun yang meninggal, terutama kepada aparat kepolisian yang gugur dalam menjalankan tugas," ujarnya di kediaman pribadi Presiden di kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Surakarta, pada Kamis, 25 Mei 2017.

 Menurut Presiden, peristiwa serupa ini tidak boleh kembali terjadi. Maka itu, ia telah menginstruksikan Kapolri untuk mengusut tuntas jaringan pelaku serangan bom untuk dikejar hingga ke akarnya.

 "Ini sudah keterlaluan! Tukang ojek menjadi korban, sopir angkot menjadi korban, penjual lapak kelontong menjadi korban, polisi juga menjadi korban," ucap Presiden lebih lanjut.

 Meski demikian, Presiden mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tetap tenang sementara pihak kepolisian menjalankan tugasnya. Ia juga meminta bangsa Indonesia untuk tetap menjaga persatuan dan ketenangan jelang Ramadan yang telah dinantikan seluruh umat Muslim.

 "Saya menyerukan agar semua anak bangsa di seluruh pelosok Tanah Air tetap tenang dan tetap menjaga persatuan. Kita harus terus menjaga ketenangan, menjaga kesejukan. Karena hari-hari ini, kita umat muslim, sedang mempersiapkan diri untuk masuk ke bulan Ramadan untuk menjalankan ibadah puasa," tutupnya.

 Sementara Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto memaparkan kronologi ledakan bom di terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, tadi malam, berdasarkan kesaksian Bripda Febrianto Sinaga.Dalam konferensi pers hari ini, Setyo menjelaskan bahwa ledakan pertama terjadi pukul 21.00 WIB di depan toilet umum, dan lima menit kemudian ledakan kedua terjadi di dekat halte Transjakarta Kampung Melayu yang jaraknya hanya lima sampai 10 meter dari toilet umum.

Saat kejadian, ia melanjutkan, Bripda Febrianto sedang bertugas melakukan pengamanan untuk antisipasi pawai obor di Kampung Melayu. Bripda Febrianto sedang makan pecel lele hanya 50 meter dari tempat kejadian perkara. Ketika mendengar ledakan, dia sontak berlari ke lokasi bersama teman-temannya. Sesampaikan di tempat ledakan, dia mencium bau menyengat dan kepulan asap tebal berwarna putih. Dia melihat ada empat orang tergeletak, termasuk Bripda Taufan Tsunami dan Bripda Yogi. Dia tidak mengenali dua orang lainnya karena tidak sempat melihat wajahnya.

Saksi kemudian menghentikan kendaraan yang lewat untuk mengevakuasi korban. Dan ketika mereka sedang mengevakuasi korban, ledakan kedua terjadi di lokasi yang jaraknya hanya 10 meter dari lokasi pertama terjadi.

Bripda Febrianto merasakan telinganya sakit akibat ledakan tersebut, karenanya dia menjauh dari lokasi dan segera pergi untuk melapor ke Mapolres Jakarta Timur diantar seorang pengendara sepeda motor.(vk/vx)

 

 

 

 

 

 

Tuesday, 23 May 2017 01:40

Swedia Ajak Kerjasama Energi

Written by

Bogor(KORANRAKYAT,COM)Indonesia dan Swedia merupakan negara yang memiliki banyak persamaan dalam hal politik luar negeri. Melalui kesamaan tersebut, Indonesia berharap hubungan dan kerja sama, utamanya dalam hal ekonomi, kedua negara dapat lebih ditingkatkan lagi. Hal tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo dalam pernyataan pers bersama dengan Raja Swedia Carl XVII Gustaf di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin, 22 Mei 2017.

"Indonesia dan Swedia memiliki banyak sekali persamaan dalam politik luar negeri. Berperan aktif dalam pasukan perdamaian PBB, mendukung kemerdekaan Palestina, dan bahkan kita sepakat kerja sama trilateral untuk membantu Palestina sejak 2015. Kita mengutamakan penyelesaian damai dalam menangani konflik-konflik yang ada. Hal ini tentu saja merupakan aset yang harus dikapitalisasi," ujarnya.

Untuk diketahui, kunjungan Raja Swedia ini merupakan sebuah kunjungan yang bersejarah. Untuk pertama kalinya sejak 65 tahun menjalin hubungan bilateral, seorang Kepala Negara Swedia melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia.

Presiden menyebut bahwa Swedia merupakan mitra perdagangan terbesar bagi Indonesia di kawasan Nordic. Hal tersebut salah satunya ditandai dengan angka investasi yang telah dikeluarkan Swedia pada tahun 2016 kemarin.

"Angka investasi Swedia meningkat lebih dari 1.400 persen di tahun 2016 dibandingkan tahun 2015. Jumlah turis juga meningkat 15 persen pada tahun 2016 dan merupakan kunjungan terbesar dari negara Nordic," ucap Presiden.

 

Dalam pertemuan tersebut, keduanya bersepakat untuk menjalin kerja sama antarkedua negara yang lebih konkret. Dalam hal bisnis, kedua negara direncanakan akan menyelenggarakan Forum Eksekutif Indonesia-Swedia.

"Yang Mulia Sri Baginda Raja Carl Gustaf ke-16 juga membahas upaya pengembangan kerja sama di bidang energi baru terbarukan melalui kerja sama yang konkret. Raja Swedia didampingi 35 delegasi bisnis dan akan diselenggarakan Indonesia-Sweden Executive Forum," Presiden menjelaskan.

Selain itu, kedua negara juga sepakat melakukan kerja sama di berbagai bidang yang dituangkan dalam bentuk tiga nota kesepahaman. Yakni kerja sama mengenai bebas visa untuk paspor diplomatik dan dinas, kerja sama di bidang transportasi, navigasi udara, dan airport, serta kerja sama dalam bidang industri kreatif.

"Beberapa kerja sama juga ditandatangani secara terpisah, yaitu kerja sama di bidang inovasi, kewirausahaan, science park, dan pembiayaan pendidikan," sambungnya.

Menanggapi pernyataan Presiden Joko Widodo terkait dengan kesamaan kedua negara, Raja Swedia memiliki pandangan yang sama dengan hal tersebut. Baginya, kerja sama antara Indonesia dan Swedia dapat tercapai oleh karena kesamaan akan nilai-nilai fundamental yang dianut oleh kedua negara.

"Kolaborasi ini didasarkan pada nilai fundamental yang sama-sama kami anut. Seperti demokrasi, kebebasan berpendapat, dan toleransi," ujar Raja Carl.

Raja Swedia juga memuji pembangunan infrastruktur yang gencar dilakukan oleh pemerintah. Kebijakan yang digulirkan sejak awal masa pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla tersebut disebutnya sebagai sebuah investasi terbaik bagi masa depan Indonesia.

"Saat ini Indonesia membuat sebuah investasi yang sangat baik untuk masa depan, seperti misalnya pembangunan infrastruktur dan pengembangan energi. Ini adalah kesempatan bagi kita untuk dapat bekerja bersama-sama," tuturnya.

Sebagai seorang yang memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan, keduanya juga membicarakan seputar pengelolaan hutan di samping topik-topik kerja sama lainnya. Raja Swedia ingin bekerja sama lebih lanjut dalam hal ini.

"Pengelolaan hutan berkelanjutan merupakan isu penting untuk Swedia, sama seperti Indonesia," ucapnya.

Turut hadir mendampingi Presiden, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri ESDM Ignasius Jonan, Menteri Ristek dan Pendidikan Tinggi M Nasir, Kepala BKPM Thomas Lembong dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf.(eas) 

 

 

 

JAKARTA(KORANRAKYAT.COM)Presiden Joko Widodo pada Rabu, 17 Mei 2017, menerima kunjungan kenegaraan Presiden Lithuania Dalia Grybauskaitė ke Indonesia. Kedatangan Presiden Dalia Grybauskaitė beserta delegasinya sekitar pukul 10.20 WIB, disambut dengan upacara kenegaraan yang dimeriahkan oleh pasukan Nusantara, korps musik, serta para pelajar yang mengenakan pakaian adat dari seluruh provinsi yang ada di Indonesia.

Bagi Lithuania, ini adalah kunjungan yang pertama kali ke Indonesia. Oleh sebab itu, Presiden Dalia Grybauskaitė sangat mengapresiasi sambutan hangat yang diberikan pemerintah dan rakyat Indonesia.

"Dalam sejarah negara kami, ini kali pertama ada di sini, dan terima kasih untuk semua kerja keras seluruh staf dalam kerja sama ini," ucap Dalia Grybauskaitė.

Demikian halnya bagi Indonesia, kunjungan Presiden Dalia Grybauskaitė merupakan kunjungan bersejarah sebab kali pertama dilaksanakan sejak hubungan diplomatik Indonesia dan Lithuania pada 24 tahun silam.

"Kunjungan Yang Mulia ke Indonesia adalah satu kunjungan yang bersejarah karena kunjungan kenegaraan pertama kali Presiden Lithuania sejak pembukaan hubungan diplomatik 24 tahun yang lalu," ujar Presiden Joko Widodo.

Dalam pertemuan yang digelar di Istana Merdeka Jakarta tersebut, kedua negara menyatakan komitmennya untuk meningkatkan hubungan bilateral dan kemitraan. Utamanya dalam bidang energi terbarukan, konservasi energi, serta pengembangan bisnis di sektor energi. Mengingat Lithuania sendiri memiliki kapabilitas dalam bidang energi surya, biomasa dan biofuel.

lainnya," tuturnya.

Selain itu, kedua Kepala Negara menggunakan momentum bersejarah tersebut untuk memperluas kerja sama perdagangan dan investasi antara kedua negara.

"Kita juga mendorong agar negosiasi Indonesia dan _EU Comprehensive Partnership Agreement_ akan dapat segera diselesaikan," ucap Presiden.

Lebih lanjut, pemerintah Indonesia juga meminta dukungan Lithuania dalam pemasaran produk sawit Indonesia di Eropa. Hal ini dikarenakan selama ini produk sawit Indonesia sering mendapatkan hambatan di pasar internasional.

"Indonesia juga telah menyampaikan _concern_ terhadap terus berlangsungnya kampanye hitam dan tindakan diskriminatif produk sawit Indonesia di Eropa, dan tadi kita juga meminta dukungan Lithuania agar produk sawit Indonesia diberlakukan secara _fair_," ujar Presiden.

Adapun di bidang pariwisata, pemerintah Indonesia dan Lithuania bertekad untuk terus meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan kedua negara. Apalagi jumlah wisatawan Lithuania yang berkunjung ke Indonesia dalam empat tahun terakhir meningkat sangat signifikan, yaitu meningkat 183 persen dari tahun 2013 ke 2016.

"Lithuania dan Eropa siap mendukung CEPA dan juga dalam negosiasi bebas visa ke Uni Eropa karena kerjasama ini akan mendatangkan pemasukan 2,5 miliar euro. Ini akan meningkatkan kesejahteraan dan keamanan," ucap Dalia Grybauskaitė.

Usai pertemuan, prosesi dilanjutkan pada acara jamuan santap siang kenegaraan sebagai bentuk penghormatan pemerintah Indonesia atas kunjungan Presiden Lithuania beserta delegasi di Istana Negara Jakarta. Kunjungan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kedua negara di berbagai bidang.

"Saya harap kunjungan ini akan menjadi momentum dorongan kedua belah pihak, salah satunya di bidang pertanian karena lahan kami yang cukup baik," tutur Dalia Grybauskaitė.

Turut mendampingi Presiden Joko Widodo dalam pertemuan tersebut sejumlah Menteri Kabinet Kerja, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri ESDM Ignasius Jonan, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Denmark merangkap Republik Lithuania, Muhammad Ibnu Said.(eas)

 

 

 PAPUA (KORANRAKYAT.COM)Di hari terakhir kunjungan kerjanya ke Papua, Rabu, 10 Mei 2017, Presiden Joko Widodo beserta rombongan beranjak menuju Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Di sana, Presiden meninjau langsung pembangunan jalan Trans Papua ruas Wamena-Mamugu 1 dengan didampingi oleh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Menteri Pekerjaan Umum Basuki Hadimuljono dan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Mulyono.

 Tak seperti yang biasa dilakukan, kali ini Kepala Negara mengendarai motor _trail_ saat menyusuri jalan sepanjang 7 km yang tengah dibangun itu. Terkait hal tersebut, Presiden berujar bahwa dengan mengendarai kendaraan roda dua tersebut, terasa betul kesulitan yang dialami selama proses pembangunan.

 "Kalau naik _trail_ kelihatan jelas kesulitannya. Itu baru naik, coba bayangkan yang membangun. Kita ini kan coba melihat di lapangan," ujarnya kepada para jurnalis usai peninjauan.

 Papua dengan medannya yang begitu sulit memang menjadi hambatan sekaligus tantangan tersendiri dalam membangun infrastruktur di sana. Oleh karenanya, untuk mengupayakan percepatan pembangunan jalan Trans Papua, Kementerian Pekerjaan Umum bekerja sama dengan pihak TNI di awal pembangunan.

 "Ini awalnya dikerjakan oleh TNI dulu. Saya tadi dengan Panglima lihat kesulitannya seperti apa. Kemudian setelah terbuka, baru Kementerian PU masuk untuk aspal, untuk mengikuti apa yang telah dikerjakan oleh TNI. Saya kira kalau duet ini dilakukan terus ini akan mempercepat," kata Presiden.

 Keterlibatan TNI ini memang dirasa sangat diperlukan. Dengan medan yang berada pada ketinggian sekira 3.200 meter di atas permukaan laut menjadikan peranan mereka sangat krusial.

 "Pembukaan lahan dulu oleh TNI untuk membentuk badan-badan jalan. Supaya masyarakat di seluruh Tanah Air tahu betapa sangat sulitnya membangun jalan di Papua karena tanahnya bergunung-gunung yang sangat tinggi," Presiden menerangkan.

 Adapun ruas jalan yang disusuri oleh Presiden beserta rombongan kali ini merupakan salah satu ruas dari sekitar 4.300 kilometer Trans Papua yang sedang dalam proses pembangunan. Sepanjang 3.800 kilometer sudah berhasil dibuka oleh TNI dan diharapkan pada tahun 2019 nanti seluruh ruas jalan sudah terbuka dan dapat dilalui.

 "Ini tadi kita berjalan di ruas dari Wamena menuju ke Kenyam sepanjang 287 kilometer. Memang yang teraspal baru 37 kilometer, tetapi ini akan terus dikerjakan," ia menambahkan.(eas)

JAKARTA (KORANRAKYAT.COM) Menanggapi artikel Jake Van Der Kamp di South China Morning Post 1 Mei 2017, perlu kami jelaskan bahwa Presiden Joko Widodo mengutarakan angka perbandingan pertumbuhan ekonomi dalam konteks posisi Indonesia di antara negara-negara anggota G-20.

Pada saat Presiden Joko Widodo berbicara tentang peringkat pertumbuhan ekonomi Indonesia, di layar sedang terpampang tayangan mengenai pertumbuhan ekonomi negara-negara G-20 yang menunjukkan  Indonesia berada pada posisi ke-3 setelah India dan RRT. Inilah konteks penjelasan Presiden kepada sekitar 5.000 warga Indonesia yang hadir di Asia World Expo, Hong Kong, 30 April 2017.

Dalam artikelnya Van Der Kamp menyatakan Presiden keliru karena peringkat Indonesia bukan ketiga, melainkan ke-13 di dunia. Kritik ini justru yang keliru. Van Der Kamp tidak mengetahui latar belakang penjelasan Presiden dan kemungkinan besar tidak hadir di ruangan saat Presiden Joko Widodo menjelaskan tayangan itu. Van Der Kamp sudah mengambil kesimpulan yang sangat keliru tanpa memahami konteks pembicaraannya.

Kami telah mengirimkan penjelasan ini melalui surat elektronik kepada pihak South China Morning Post untuk segera dimuat.(eas)

 

 

JAKARTA(KORANRAKYAT.COM)Pangeran Kerajaan Arab Saudi, Khalid Bin Abdul Aziz, yang juga bertindak sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Sosial Pangeran Sultan Kerajaan Arab Saudi melakukan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo pada Kamis, 4 Mei 2017, kemarin. Pangeran Khalid bersama dengan rombongannya diterima oleh Presiden Joko Widodo di ruang Bilateral Istana Merdeka sekitar pukul 10.45 WIB.

Pertemuan tersebut kemudian dilanjutkan dengan acara silaturahmi dengan para peserta Musabaqah Hafalan Alquran dan Hadis Pangeran Sultan bin Abdul Aziz Alu Su'ud Tingkat ASEAN dan Pasifik ke-8 Tahun 2017 di Istana Negara, Jakarta. Dalam acara tersebut Pangeran Khalid turut menyampaikan pidatonya kepada Presiden Joko Widodo beserta peserta acara. Persoalan mengenai terorisme merupakan hal yang diangkat Pangeran Khalid dalam pidatonya itu.

"Saya berbicara di sini tidak cukup kalau saya tidak menyebutkan apa yang sedang diderita oleh bangsa dan umat kita. Yakni adanya pemikiran-pemikiran ekstrem, adanya terorisme, khususnya membawa nama Islam. Padahal Islam bebas atau tidak mengenal hal-hal seperti itu," ujarnya.

Berdasarkan pandangannya, aksi terorisme tersebut entah mengapa banyak mendapatkan dukungan. Baik kaum berpunya maupun yang kekurangan, baik kaum berpendidikan maupun tidak, baik yang berasal dari tempat yang jauh maupun dekat, semuanya seolah saling mendukung untuk memobilisasi masyarakat untuk mendukung pemikiran yang menyesatkan ini. Namun, yang paling mengherankan menurutnya ialah adanya warga yang justru memberikan ancaman bagi negara tempat di mana ia dilahirkan.

"Kita menyaksikan negara yang menentang terorisme secara terang-terangan, tapi secara diam-diam negara itu justru mendukung. Saya heran ada orang yang tinggal di negaranya, dibesarkan di negaranya, tapi dia sendiri yang menghancurkan negaranya sendiri," ia menjelaskan.

Untuk diketahui, sejak tahun 2009, Pangeran Khalid telah menuangkan pemikirannya mengenai kelompok teroris itu. Dirinya menulis tentang golongan-golongan teroris secara jelas dan bagaimana kita bisa menghadapi pemikiran dan keadaan mereka itu.

"Mereka yang meledakkan dirinya dengan _remote control_ atau menjadi eksekutor dalam suatu gerakan yang menyesatkan ini, mereka semua itu adalah para teroris. Teroris terdiri dari 6 partisipan. Yang pertama adalah intelektual teroris, yang kedua perencana teroris, yang ketiga pemberi dana, yang keempat provokator teroris, yang kelima para loyalis dan pendukung teroris, dan yang keenam para eksekutor teroris," tuturnya.

 "Mereka melakukan kesalahan dan kriminal-kriminal itu dengan peralatan-peralatan dan didukung oleh kelima elemen yang disebutkan tadi. Sebetulnya bahaya pemikiran terorisme di zaman modern ini menjadi satu industri yang mereka lakukan untuk kemaslahatan dan kepentingan mereka," ia menambahkan.

Pangeran Khalid menyampaikan, kebodohan merupakan salah satu rintangan dan landasan yang besar bagi penyebaran terorisme dan ekstremisme. Inilah yang harus dihadapi oleh negara-negara, masyarakatnya, dan segenap organisasi yang ada di dalamnya.

Bukankah sebab diturunkan Islam sebagai teroris adalah karena Barat tidak memahami Islam dan kaum muslimin? Jawabannya adalah bukan, bukan seperti itu. Justru kaum muslimin sendiri yang tidak memahami Islam. Kaum muslimin sendiri yang jauh dari agamanya. Mereka yang merusak agamanya sendiri," ia menegaskan.

Islam sesungguhnya telah memerintahkan untuk memerintahkan yang baik dan mencegah kemungkaran. Namun, hal itu dilakukan tidak dengan cara-cara yang merusak karena Islam sendiri telah mengatur dengan baik mengenai hal tersebut.

"Ulama-ulama mengatakan, dalam memerintahkan yang baik harus dengan ilmu yang arif. Demikian pula dengan melarang kemungkaran, juga dengan ilmu yang arif dan dengan akhlak serta keluwesan," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Pangeran Khalid juga memuji masyarakat Indonesia yang disebutnya sebagai sebuah percontohan bagi kehidupan yang damai. Masyarakat Indonesia yang terdiri atas berbagai budaya dan suku dengan segala perbedaan dan keyakinan disebutnya tetap mampu menjaga keadaan yang harmonis untuk membangun bangsa.

"Rakyat Indonesia sungguh merupakan percontohan. Negara-negara di dunia Islam semestinya harus mencontoh Indonesia. Rakyat Indonesia telah mengetahui bahwa Allah telah menciptakan hambanya merdeka. Dan Islam telah menjamin bagaimana berdialog dengan toleransi dan berinteraksi secara baik dan tidak mengafirkan orang lain. Itulah rakyat yang patut kita contoh," ucapnya.(eas)

 

 

 

 

.

Page 6 of 16

Ekonomi Makro

  •  

     

     

    JAKARTA (KORANRAKYAT.COM) Maskapai penerbangan Garuda Indonesia telah menghentikan

     
  •  

     

     

    JAKARTA(KORANRAKYAT.COM) Presiden Joko Widodo hari ini, Selasa, 12 Maret 2019, membuka Rapat

     
  •  



      JAKARTA(KORANRAKYAT.COM) Badan koordinasi kepariwisataan, di ketuai Wapres RI Jusuf Kalla 

     
  •  

Malang Raya

Rendra Bupati Malang Ditahan