Selamat Datang Di Koranrakyat.com infokan berbagai kasus atau keluhan yang berkaitan dengan layanan publik melalui email ke This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. tertarik jadi wartawan dan iklan kirim lamaran ke email cv anda ke email This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Headline News

  Rohidin Mersyah Dilantik Jadi Gubernur Bengkulu Oleh Presiden Joko Widodo  Rohidin  Bertekad Kembangkan Pariwisata Bengkulu
Last Updated on Dec 14 2018

Rohidin Mersyah Dilantik Jadi Gubernur Bengkulu Oleh Presiden Joko Widodo Rohidin Bertekad...

    JAKARTA(KORANRAKYAT.COM) Presiden Joko Widodo secara resmi melantik Rohidin Mersyah sebagai Gubernur Bengkulu untuk sisa masa jabatan tahun 2016-2021.           Rohidin Mersyah dilantik menggantikan Gubernur Bengkulu sebelumnya, Ridwan Mukti, berdasarkan pada Surat Keputusan...
Kasus Pembantaian Nduga Papua Negara Tidak Boleh kalah
Last Updated on Dec 10 2018

Kasus Pembantaian Nduga Papua Negara Tidak Boleh kalah

  JAKARTA,KORANRAKYAT.COM- Penyelesaian kasus penembakan di Kabupaten Nduga ,Papua yang menelan korban para pekerja PT Astika saat melaksanakan tugas membuat jalan. Disini negara tak boleh kalah TNI Polri terus mengejar para pelaku.Kadiv  Humas Mabes Polri, Brigjend Pol Muhammad Iqbal mengatakan...
Jaksa Agung Tegaskan Menerima 2 Surat SPDP Habib Bahar Smith
Last Updated on Dec 10 2018

Jaksa Agung Tegaskan Menerima 2 Surat SPDP Habib Bahar Smith

    JAKARTA,KORANRAKYAT.COM- Proses pemeriksaan Habib Bahar Smith terus berproses. Kini kejaksaan Agung menerima dua surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP). Jaksa Agung Muhammad Prasetyo ditemui di Kejaksaan Agung, Jumat(7/12)2018 mengatakan pihaknya telah menerima dua surat...
Presiden Senam Bersama Pada HUT Senam Tera Indonesia Ke-33 di Bogor
Last Updated on Dec 10 2018

Presiden Senam Bersama Pada HUT Senam Tera Indonesia Ke-33 di Bogor

    BOGOR(KORANRAKYAT.COM) Presiden Joko Widodo ikut bersenam pagi pada Hari Ulang Tahun ke-33 Senam Tera Indonesia. Acara ini dipusatkan di kawasan Kebun Raya Bogor, pada Minggu, 9 Desember 2018.Tiba pukul 07.10 WIB, kedatangan Presiden disambut oleh Ketua Umum Pengurus Senam Tera Indonesia...
Presiden Ajak Masyarakat Lestarikan Budaya Indonesia di Tengah Perubahan Zaman
Last Updated on Dec 10 2018

Presiden Ajak Masyarakat Lestarikan Budaya Indonesia di Tengah Perubahan Zaman

.   JAKARTA(KORANRAKYAT.COM) Presiden Joko Widodo mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus aktif meluhuri dan melestarikan budaya bangsa Indonesia. Apalagi mengingat perkembangan zaman dan teknologi yang semakin cepat serta semakin tingginya penetrasi budaya lain yang masuk ke Indonesia. Hal...

World Today

Friday, 26 January 2018 03:53

Wapres RI JK : Faktor Agama Sering Dijadikan Justifikasi atas Konfik yang Telah Terjadi Sebelumnya

Written by 
Rate this item
(0 votes)

.

 

MAKASAR(KORANRAKYAT.COM) . Membangun perdamaian adalah ‘seni’ yang bersumber dari ketekunan, kegigihan  dan keahlian. Sementara, faktor agama sering dijadikan justifikasi atas konfLik dan kekerasan yang telah terjadi sebelumnya.  Demikian beberapa hal yang ditegaskan  Wakil Presiden Jusuf Kalla (Wapres JK) dalam Pidato Pengukuhan DR HC dalam bidang Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar di Makassar, Kamis 25 Januari 2018.  Dalam pidatonya yang bertema “KAJIAN PERDAMAIAN: PERSPEKTIF AGAMA, EKONOMI DAN  POLITIK”, JK  menyatakan dirinya sangat senang berbicara tentang perdamaian dengan mengatasi konfik dan kekerasan guna menciptakan perdamaian dan rekonsiliasi.  “Berdasarkan pengalaman pribadi secara langsung dalam mengakhiri konfik di Ambon, Poso dan Aceh, saya dapat memberikan refeksi tentang bagaimana menciptakan perdamaian (crafting peace). Membangun perdamaian adalah ‘seni’ yang bersumber dari ketekunan, kegigihan  dan keahlian,” tegas JK dihadapan civitas akademik Universitas Islam Negeri Alaudin dan para undangan.

          Dikatakannya, gangguan terhadap perdamaian dan harmoni di kalangan masyarakat, kelompok etnis, intra dan antar umat beragama disebabkan berbagai faktor yang sangat kompleks. Secara internal di sebuah negara atau daerah negara tersebut, faktor-faktor itu lebih banyak terkait dengan ekonomi, politik, dan sosial-budaya daripada agama semata-mata. Faktor-faktor penyebab konfik, kekerasan dan perang berkombinasi satu sama lain membuat terganggunya perdamaian dan harmoni dalam negara atau daerah tertentu. “Faktor agama sering datang belakangan dijadikan justifikasi atas konfik dan kekerasan yang telah terjadi sebelumnya. Pada zaman sekarang, hampir tidak ada konfik yang murni bersumber dari agama. Negara yang sangat heterogen plural, bhinneka atau majemuk dalam berbagai aspek kehidupan seperti suku bangsa atau etnisitas, agama, sosial-budaya dan bahasa seperti Indonesia mengandung banyak potensi kerawanan. Kerawanan yang dihadapi Indonesia jelas jauh lebih besar bagi munculnya konfik dibandingkan negara yang homogen dalam kehidupan para warganya.

          Karena itulah kemajemukan dan kebhinnekaan Indonesia harus disikapi secara arif dan bijaksana. Kita patut bersyukur karena walaupun Indonesia penuh dengan keragaman dan kebhinnekaan, tetapi tradisi kerukunan dan kedamaian merupakan salah satu distingsi wilayah ini sejak waktu lama. Sepanjang sejarahnya, Indonesia tidak pernah mengalami konfik, kekerasan atau perang yang berlangsung lama dan luas. Tidak kurang penting, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) mengakui kemajemukan itu secara konstitusional seperti Pancasila yang melalui sila pertamanya Ketuhanan Yang Maha Esa yang mengakodasi kemajemukan agama dan umat beragama. 

           “Selanjutnya adalah dalam prinsip ‘Bhinneka Tunggal Ika’ yang berarti ‘keragaman dalam kesatuan’.Meski demikian, perdamaian dan kedamaian tidak bisa dipandang sebagai telah selesai. Perlu penciptaan kondisi yang kondusif bagi perdamaian dan kedamaian secara terus menerus; pada saat yang sama juga perlu pencegahan konfik dan kekerasan secara berkesinambungan. Apalagi perubahan yang terus berlangsung dalam kehidupan bangsa dapat menciptakan gangguan terhadap perdamaian, kedamaian dan harmoni di antara berbagai kelompok warga,” katanya.

Dikemukakan juga bahwa gangguan terhadap perdamaian, kedamaian dan harmoni di Indonesia juga bisa muncul karena perkembangan global. 

“Berbagai gagasan dan gerakan radikal bersifat transnasional dengan cepat dan luas menyebar di Indonesia. Gagasan dan gerakan transnasional dengan segera pula menimbulkan ketegangan, konfik dan kekerasan di tanah air kita. Tidak jarang paham dan gerakan transnasional itu bersifat dan bertujuan politik—membentuk negara semacam daulah Islamiyah atau khilafah—atas dasar konsep keagamaan mereka sendiri,” ujarnya.

 

        Konfik politik dan ekonomi di antara negara, lanjutnya juga merupakan sumber konfik yang menimbulkan gangguan terhadap perdamaian dan kedamaian. Dominasi dan hegemoni suatu negara (dan aliansi dan koalisi negara-negara) terhadap negara lain menimbulkan ketegangan, konfik dan bahkan perang seperti bisa disaksikan di Timur Tengah dan Asia Selatan dalam waktu yang sudah lama sampai sekarang.

Selain itu, hubungan internasional yang tidak adil seperti tercermin dalam lembaga-lembaga internasional seperti PBB juga menjadi sumber ketegangan dan konfik yang mengganggu perdamaian dan harmoni masyarakat global. “Dominasi negara-negara tertentu dalam lembaga-lembaga internasional semacam PBB dengan mengorbankan bangsa atau negara lain—seperti Palestina—menimbulkan ketegangan dan konfik di tingkat internasional yang kemudian mengimbas ke negara tertentu,” ucapnya.

 

         Menghadapi berbagai tantangan dan gejala konfik yang terus meningkat di bagian tertentu dunia, Indonesia yang damai, stabil dengan ekonominya yang terus bertumbuh berusaha memainkan peran lebih besar untuk menciptakan perdamaian. Indonesia kini termasuk berada di garis terdepan dalam usaha mewujudkan perdamaian di Palestina dan di Myanmar—menyangkut etnis Rohingya.JK juga mengingatkan bahwa ada sementara kalangan berpendapat, agama adalah sumber konfik dan kekerasan yang mengancam perdamaian dan kedamaian.  “Memang terdapat kelompok yang atas nama agama melakukan tindakan kekerasan dan terorisme di berbagai negara, termasuk Indonesia. Tetapi orang-orang atau kelompok seperti ini tidaklah representasi umat beragama secara keseluruhan; mereka hanyalah segelintir orang yang menggunakan agama untuk menjustifkasi konfik dan kekerasan yang tidak bisa dibenarkan. Sering terbukti bahwa pelaku kekerasan atas nama agama tersebut bukanlah orang atau kelompok yang dikenal sebagai pengamal agama yang taat. Banyak di antara mereka juga tidak memahami agama dengan benar. Dengan melakukan kekerasan, mereka seolah ‘menemukan’ agama kembali. Oleh karena itulah saya meyakini  bahwa agama bukan sumber 

konfik dan kekerasan. Semua agama sangat menekankan ajaran tentang perdamaian dan kedamaian. Misalnya Islam yang namanya saja berarti ‘damai’. Islam datang adalah untuk menjadi rahmat bagi alam semesta, seperti ditegaskan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, ‘wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin’—tidaklah Kami mengutus engkau [Muhammad] kecuali untuk menjadi rahmat bagi alam semesta (Surah al-Anbiya 107). Jadi tegas dan jelas, Islam datang bukan untuk menciptakan konfik dan kekerasan,” papar JK.

 

            Dalam berbagai upaya saya di lapangan untuk mengatasi konfik dan kekerasan guna menciptakan perdamaian dan rekonsiliasi, JK menemukan bahwa agama, atau ajaran tertentu dari agama, telah disalahartikan dan disalahgunakan (used and abused). Penyalahgunaan agama itu sering terkait dengan kepentingan politik, ekonomi dan kontestasi lain di antara kelompok masyarakat atau komunitas berbeda.

 “Dalam pertemuan-pertemuan massal dan terbatas di antara pihak-pihak yang terlibat pertikaian, konfik dan kekerasan, saya berulang kali menyatakan kepada para pemimpin agama dari agama-agama yang berbeda, bahwa para masing-masing pemimpin kelompok kekerasan telah menjual surga dengan harga murah. Ini mereka lakukan dengan memerintahkan orang-orang dalam kelompoknya untuk membunuh musuh-musuh mereka karena dengan begitu mereka disebut akan masuk surga,” tegasnya. 

 

       Diingatkannya juga bah berbagai kajian ilmiah-akademis menyimpulkan,  konfik, kekerasan dan perang banyak terkait dengan masalah ekonomi. Penelitian-penelitian yang dilakukan banyak ahli menegaskan, kepincangan dan ketidakadilan ekonomi di antara kelompok warga merupakan salah satu faktor utama konfik dan kekerasan. Pengangguran dan kemiskinan yang dialami sebagian warga membuat mereka jauh dari sejahtera; sebaliknya hidup dalam kesengsaraan dan kenestapaan.

“Orang-orang atau kelompok masyarakat yang mengalami kepincangan dan ketidakadilan ekonomi termasuk salah satu kelompok paling rawan bagi tumbuhnya radikalisme yang mengakibatkan konfik dan kekerasan. Perdamaian, kedamaian dan harmoni menghadapi tantangan serius jika masih banyak warga atau kelompok masyarakat yang menganggur dan miskin sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari,” lanjutnya.

Oleh karena itulah, ujarnya lagi, pengembangan pembangunan ekonomi yang berkeadilan dan berimbang sangat esensial untuk penciptaan perdamaian, kedamaian dan harmoni. Pertumbuhan ekonomi harus disertai pemerataan untuk memperbaiki kehidupan mereka yang miskin atau menganggur.

“Pengembangan ekonomi yang berkeadilan dan berkesimbangan mestilah mencakup berbagai tingkatan: antara satu daerah dengan daerah lain; antara kota dan desa; antara bagian tertentu kota dengan bagian lain kota; antara bagian pedesaan dengan bagian lain desa. Keadilan dan keseimbangan ekonomi itu mesti pula mencakup antara satu golongan  masyarakat dengan golongan masyarakat lain, satu kelompok etnis dengan kelompok etnis lain; antara kelompok pendatang (migran) dengan penduduk lokal (asli),” ucapnya. Karena itu, JK menegaskan kembali bahwa ketidakseimbangan dan ketidakadilan di antara berbagai tingkatan atau bagian masyarakat itu, sekali lagi, dapat menyimpan potensi konfik yang sewaktu-waktu dapat meledak menjadi kekerasan—menghancurkan perdamaian, kedamaian dan harmoni (eas/wapres)

Read 186 times Last modified on Friday, 26 January 2018 04:11
Login to post comments

Entertaiment

Face Book Galleries

    JAKARTA(KORANRAKYAT.COM) Presiden Joko Widodo secara resmi melantik Rohidin Mersyah sebagai Gubernur Bengkulu...
  JAKARTA,KORANRAKYAT.COM- Penyelesaian kasus penembakan di Kabupaten Nduga ,Papua yang menelan korban para pekerja...
    JAKARTA,KORANRAKYAT.COM- Proses pemeriksaan Habib Bahar Smith terus berproses. Kini kejaksaan Agung menerima...
    BOGOR(KORANRAKYAT.COM) Presiden Joko Widodo ikut bersenam pagi pada Hari Ulang Tahun ke-33 Senam Tera...
.   JAKARTA(KORANRAKYAT.COM) Presiden Joko Widodo mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus aktif meluhuri dan...
    Bengkulu, (KORANRAKYAT.COM) - Setelah sekian lama belum ada kejelasan kapan Pelaksana Tugas Gubernur Bengkulu...
    BOGOR(KORANRAKYAT.COM) Presiden Joko Widodo dan keluarga mengapresiasi peran media yang menurutnya telah ikut...
    BOGOR(KORANRAKYAT.COM) Selepas jalan pagi bersama keluarga, Presiden Joko Widodo berbincang santai dengan...
  MALANG(KORANRAKYAT.COM)- Selain menggarap sejumlah pihak swasta, penyidik KPK juga melakukan pemeriksaan tambahan...
    JAKARTA,KORANRAKYAT.COM-Aksi pembantaian terhadap 19 orang pekerja karyawan PT Istaka yang sedang melaksanakan...

Ekonomi Makro

  •  

    .

     

    JAKARTA(KORANRAKYAT.COM) Presiden Joko Widodo menyampaikan apresiasinya atas kinerja Bank

     
  •  

     

     
    JAKARTA(KORANRAKYAT.COM) Dalam empat tahun ini, pemerintah telah bekerja keras untuk
     
  •  

    JAKARTA(KORANRAKYAT.COM)Presiden Joko Widodo bersama dengan jajaran terkait hari ini menggelar

     
  •  

     

    BALI(KORANRAKYAT.COM)Indonesia dan Singapura telah bersepakat untuk meningkatkan kerja sama di

     

Malang Raya

Privalensi Stunting Di Kota

 

 

MALANG (KORANRAKYAT.COM) Prevalensi balita stunting

Read more

Rumah Kepala PU Kab Malang

 

MALANG(KORANRAKYAT.COM)- Selain menggarap sejumlah pihak

Read more

Rendra Bupati Malang Ditahan